Rabu, 14 Maret 2018

Hakikat Pembelajaran, Model Desain Pembelajaran, Analisis Kebutuhan dan Analisis Karakteristik Siswa


    A.     Hakikat Pembelajaran
    1.      Pengertian Pembelajaran
              Menurut Susanto(2016:18) kata pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas belajar dan mengajar . Aktivitas belajar secara metodologis cenderung dominan pada siswa, sementara mengajar secara  instruksional dilakukan oleh guru. Jadi, istilah pembelajaran adalah ringkasan dari kata belajar dan mengajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah penyederhanaan dari kata belajar dan mengajar (BM), proses belajar mengajar (PBM), atau kegitan belajr mengajar (KBM).
          Menurut undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, pembelajran            diartikan sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupkan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat belajar dengan baik. Namun dalam implementasinya, sering kali kata pembelajaran ini di identikkan dengan kata mengajar.
                Jadi dapat disimpulkan bahwa hakikat  pembelajaran adalah aktivitas yang dilakuakn oleh  guru kepada peserta didik agar dapat melakukan proses belajar mengajar dengan baik.

    2.   Komponen Pembelajaran
            Menurut Sumiati dan Asra (dalam Ahmad 2012)mengelompokkan komponen komponen pembelajaran dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi pembelajaran, dan siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
   3.   Tujuan Pembelajaran
       Menurut H. Daryanto (dalam Ahmad 2012) tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.
   4.   Materi Pembelajaran
        Menurut Syaiful Bahri Djamarah, dkk (dalam Ahmad 2012) menerangkan bahwa materi pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan.
  5.   Metode Pembelajaran
      Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk.Penggunaan metode pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor.Agar metode pembelajaran yang digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber dan fasilitas, situasi kondisi dan waktu.
6.   Media Pembelajaran
      Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2009) mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:
 -       Penggunaan media kelas
 -       Penggunaan media diluar kelas            
7. Evaluasi Pembelajaran
              Evaluasi pembelajaran merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan pembelajaran diketahui hasilnya.Evaluasi pembelajaran harus disusun dengan tepat.
  8.   Peserta didik/ Siswa
       Siswa merupakan komponen inti dari pembelajaran, maka dari itu siswa harus disiplin belajar yang tinggi.
  9.   Pendidik/ Guru
     Guru merupakan komponen utama yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena    tugas guru bukan hanya sebagai fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu adalah sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
  10.  Lingkungan tempat belajar
        Lingkungan yang ditata dengan baik akan menciptakan kesan positif dalam diri siswa, sehingga siswa menjadi lebih senang untuk belajar dan lebih nyaman dalam belajar
  11.  Pengelolaan Proses Pembelajaran             
       Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, serta pemberian sikap dan kepercayaan kepada peserta didik. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses untuk membanttu peserta didik dapat berjalan dengan baik. 
c   B.     Model Desain Pembelajaran
1.    Pengertian Desain Pembelajaran
Menurut  pendapat Gentry dalam Sanjaya (2013:67) tentang desain pembelajaran yaitu berkenaan dengan proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mecapai tujuan serta merancang media yang dapat digunakan untuk efektivitas pencapaian tujuan. Selanjutnya menurut pendapat Gagne dan Sanjaya (2013:66) desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan jangka panjang.
Menurut Gagne, belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal datang dari dalam diri individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar, minat dan bakat serta kesiapan setip individu yang belajar. Faktor eksternal ini datang dari luar individu yang berkaitan dengan penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran adalah  suatu proses yang sistematis dan berstruktur dengan menentukan tujuan pembelajaran melalui strategi dan teknik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan.
2.    Model-Model Desain Instruksional
a.       Model Kemp
Model desain yang dikembangkan Kemp, seperti tampak pada gambar dibawah ini:
              Model desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Komponen-komponen itu digambarkan oleh Kemp seperti gambar diatas.
              Model sistem instuksional yang dikembangkan Kemp ini tidak ditentukan dari komponen mana seharusnya guru memulai proses perkembangan. Mengembangkan sistem instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asal saja urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi unruk mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu mosel Kemp, dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat luwes.
              Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah:
1.      Hasil yang ingin dicapai;
2.      Analis tes mata pelajaran ;
3.      Tujuan khusus belajar ;
4.      Aktivitas belajar;
5.      Sumber belajar;
6.      Layanan pendukung;
7.      Evaluasi belajar;
8.      Tes awal;
9.      Karakteristik belajar

b.      Model Banathy
Model desain sistem pembelajaran dari Banathy berbeda dengan model Kemp. Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahapan dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni:
1.  Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun tujuan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arahan yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik.
2.    Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat meyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilan.
3. Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
4.  Merancang sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem penganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
5.    Mengimplementasikan dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi.
6.      Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.

c.       Model Dick and Cery
Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kempuan awal siswa terlebih dahulu. Rumusan kemampuan khusus harus berpijak dari kemampuan dasar atau kempuan awal. Manakalah telah dirumuskan tujuan khusus yang harus dicapai selanjutnya dirumuskan tes dalam bentu Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajrana yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Langkah terakhir melakuakan evaluasi formatife berfungsi untuk menentukan kedudukan setiap siswa dalam penguasaan materi pelajaran. Model desain pembelajaran ini dikembangkan oleh Dick and Cery.


d.      Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan  perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru melaksanakan proses  belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni:
1.   Merumuskan tujaun, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
2.    Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
3. Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
4.  Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
5.   Pelaksanaan program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes dan melakukan perbaikan.
      C.      Analisis Kebutuhan
       1.    Pengertian Analisis Kebutuhan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kata bantu penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri, serta hubungan antara bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat dan pemahaman makna keseluruhan proses pencarian jalan keluar yang berangkat dari dugaan akan keberadaanya, penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Menurut Habibi (2015:1), Kebutuhan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan.
Menurut Anderson analisis kebutuhan (Need Assessment) diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas.
Sedangkan menurut Kaufan (dalam sihombing dan marni 2012) analisis kebutuhan dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk mengidentifikasi alat dan metode yang diperlukan dalam rangka menghilangkan kesenjangan antara kenyataan dan harapan.
Dapat disimpulkan bahwa analisis kebutuhan adalah  suatu usaha dalam berproses untuk memperoleh sesuatu dengan melakuakan  identifikasi terhadap apa saja yang dibutuhkan untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan                  
2.    Fungsi Analisis Kebutuhan
Menurut Morrison menjelaskan beberapa fungsi analisis kebutuhan sebagai berikut:
·   Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran
·  Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan fiansial, keaman atau masalah lain yang mengganggu pekerjaan ata lingkungan pendidikan
·      Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan
·      Memberikan data basis untuk menganalisa efektivitas pembelajaran.
     Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan:
a.       Kebutuhan normatif
Membandingkan peserta didik dengan standar nasional misal, UAN< SNMPTN dan sebagainya.
b.      Kebutuhan komperatif
Membandingkan peserta didik pada satu satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misalnya, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B
c.   Kebutuhan yang dirasakan yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didk yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukkan kesenjangan antara tingkat keterampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan Cara interview.
d.   Kebutuhan yang diekspresikan yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e.     Kebutuhan masa depan yaitu mengidentifikasi perubaha-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru dan sebagainya.
f.    Kebutuhan insidentil yang mendesak yaitu faktor negatif yang muncul diluar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam dan sebagainya.

D.       Analisis Karekteristik Siswa
a.       Analisis Karakteristik Siswa
Ada dua karakteristik awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni :
1). Latar belakang akademik mencakup
a.       Jumlah siswa
Guru perlu mengetahui berapa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk mengetahui jumlah siswa, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
b.      Latar belakang siswa
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang siswa dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh siswa.
c.       Indeks prestasi
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang akan disajikan:
-     Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
-     Bahkan siswa yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama
-   Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa
-  Untuk mengetahui indeks prestasi siswa dapat di peroleh melalui nilai rapor  sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselenggarakan lembaga.
d.      Tingkat intelegensi
Memahami tingkat intelegensi siswa juga dapat mengukur dan
memprediksi :
-       Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran
-       Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi
-       Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi,   metode, media serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa.
Tingkat intelegensi siswa dapat diperoleh melalui tes intelengensi atau tes potensi akademik (TPA).
e.       Keterampilan membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan membaca, keterampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca.Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca siswa dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
f.       Nilai ujian
Nilai ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal siswa.untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan awal siswa terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh guru yang bersangkutan.
g.      Kebiasaan belajar/gaya belajar
Aspek lain yang perlu diperhatikan guru dalam mengajar adalah memahami gaya belajar siswa atau yang disebut dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang  mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda, akan tetapi juga ditentukan oleh cara belajar yang dimiliki oleh masing-masing siswa. seorang siswa yang senang membaca, kurang terbiasa belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau berdiskusi. Demikian juga, siswa yang senang bergerak atau berdiskusi, tidak akan belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah dari guru. Lebih lanjut, gaya belajar atau learning style sering diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
Keanekaragaman gaya belajar siswa perlu diketahui oleh guru pada awal belajar. Sehingga guru memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran apa yang relevan dengan gaya belajar siswa. Karena prinsip dari efektivitas proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran berdasarkan tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai oleh siswa.
h.      Minat belajar
Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam memahami karakteristik siswa.Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/melihat tingkat antusias siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
i.        Harapan/keinginan siswa
Harapan dan keinginan siswa terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.
j.        Lapangan kerja/cita-cita yang diinginkan
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian angket.Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan.Faktor-faktor sosial yang meliputi hal-hal berikut ini :
§  Usia
      Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik siswa. memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa.
§  Kematangan (maturity)
      Kematangan juga dapat dijadikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik siswa, di mana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia/kesiapan siswa.Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan.Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari pada fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani.Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia. Mengarah kepada terjadinya proses kematangan.
§  Rentangan perhatian (attention span)
Rentang perhatian siswa adalah jumlah waktu normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran.
§  Bakat-bakat istimewa
Sebagaimana dipahami bahwa setiap anak memiliki berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.
§  Hubungan dengan sesame siswa
Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan hari ini, bahwa interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik (interaktif) lewat proses belajar mengajar. Siswa tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari ini yaitu sebagai subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar efektif. Dengan demikian memahami hubungan antar siswa membantu guru dalam megembangkan pendekatan-pendekatan belajar yang bertumpu kepada kerja sama siswa dalam belajar.
§  Keadaan sosial ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan sosial ekonomi siswa juga dapat membantu guru dalam menntukan pndekatan dan sumber belajar.Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memenuhi kebutahan sumber belajar.
2)      Manfaat Memahami Karakteristik Siswa
a.     Memperoleh gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat) bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu mudah atau tidak terlampau sulit bagi siswa untuk mempelajarinya. Yang lebih baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite (prasyarat) yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya. Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara optimal.
b.     Memporoleh gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa. dengan berdasarkanpengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan ilustrasi yang tidak asing lagi bagi siswa. dengan demikian, siswa akan lebih mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.
c.    Mengetahui latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakan keluarga, seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan demensi-demensi kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial emosional dan mental mereka. Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang lebih serasi dengan metode yang lebih efesien.
d.  Mengtahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani maupun rohani. Tingkat perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara belajar siswa. dengan demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran yang ebih sesuai bagi mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku yang harus diperoleh oleh siswa sebelum dia mulai membaca.
e.       Untuk menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat digunakan, yaitu peragkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara yang stu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
f.   Mengetahui aspirasi dan kebutuhan para siswa.dengan cara itu guru dapat merancang strategi yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara individual maupun secara kelompok.
g.     Mengetahui tingkat penguasaan pengetahuan yang telah di peroleh oleh siswa sebelumnya. Perkembangan aspek kognitif dan intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar dalam merencanakan pengetahuan baru, yang dirancang secara tepat.
h.  Mengetahui tingkat penguasaan bahasa siswa, baik lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan bahasa menjadi dasar pertimbangan dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih mudah dipahami dan dicerna oleh siswa. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan kemampuan berbahasa para siswa agar terjadi komunikasi yang seimbang dan berhasil.
i.        Mengetahui sikap dan nilai yang menjiwai pribadi pada siswa. bahan itu dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan pribadinya dalam proses belajar.

Hakikat Pembelajaran, Model Desain Pembelajaran, Analisis Kebutuhan dan Analisis Karakteristik Siswa

    A.      Hakikat Pembelajaran     1.       Pengertian Pembelajaran               Menurut Susanto(2016:18) kata pembelajaran merupak...