A.
Hakikat
Pembelajaran
1. Pengertian
Pembelajaran
Menurut Susanto(2016:18) kata pembelajaran merupakan perpaduan
dari dua aktivitas belajar dan mengajar . Aktivitas belajar secara metodologis
cenderung dominan pada siswa, sementara mengajar secara instruksional dilakukan oleh guru. Jadi,
istilah pembelajaran adalah ringkasan dari kata belajar dan mengajar. Dengan
kata lain, pembelajaran adalah penyederhanaan dari kata belajar dan mengajar
(BM), proses belajar mengajar (PBM), atau kegitan belajr mengajar (KBM).
Menurut undang-undang
Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, pembelajran diartikan sebagai
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran merupkan bantuan yang diberikan pendidik agar
dapat belajar dengan baik. Namun dalam implementasinya, sering kali kata
pembelajaran ini di identikkan dengan kata mengajar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hakikat pembelajaran adalah aktivitas yang dilakuakn
oleh guru kepada peserta didik agar dapat melakukan proses belajar mengajar
dengan baik.
2.
Komponen Pembelajaran
Menurut Sumiati dan Asra (dalam Ahmad 2012)mengelompokkan
komponen komponen pembelajaran dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau
materi pembelajaran, dan siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan
metode pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat
belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya
tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
3.
Tujuan Pembelajaran
Menurut
H. Daryanto (dalam Ahmad 2012) tujuan pembelajaran adalah tujuan yang
menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam
bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.
4.
Materi Pembelajaran
Menurut Syaiful
Bahri Djamarah, dkk (dalam Ahmad 2012) menerangkan bahwa materi pembelajaran
adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa
materi pembelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan.
5.
Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran
merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi
pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang
ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk.Penggunaan
metode pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar
baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor.Agar metode pembelajaran
yang digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu
tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber
dan fasilitas, situasi kondisi dan waktu.
6.
Media Pembelajaran
Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana
(2009) mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya,
yaitu:
-
Penggunaan media kelas
-
Penggunaan media diluar
kelas
7. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi
pembelajaran merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan
proses pembelajaran. Dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan
pembelajaran diketahui hasilnya.Evaluasi pembelajaran harus disusun dengan
tepat.
8.
Peserta didik/ Siswa
Siswa merupakan komponen inti dari pembelajaran, maka
dari itu siswa harus disiplin belajar yang tinggi.
9.
Pendidik/ Guru
Guru merupakan komponen utama yang
sangat penting dalam proses pembelajaran karena tugas guru bukan hanya sebagai
fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu adalah sebagai pengelola
pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
10. Lingkungan tempat belajar
Lingkungan yang ditata dengan baik akan menciptakan kesan
positif dalam diri siswa, sehingga siswa menjadi lebih senang untuk belajar dan
lebih nyaman dalam belajar
11. Pengelolaan Proses Pembelajaran
Pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar
terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, serta pemberian sikap dan
kepercayaan kepada peserta didik. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah proses untuk membanttu peserta didik dapat berjalan dengan baik.
c B.
Model Desain
Pembelajaran
1. Pengertian
Desain Pembelajaran
Menurut pendapat Gentry
dalam Sanjaya (2013:67) tentang desain pembelajaran yaitu berkenaan dengan
proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mecapai tujuan
serta merancang media yang dapat digunakan untuk efektivitas pencapaian tujuan.
Selanjutnya menurut pendapat Gagne dan Sanjaya (2013:66) desain pembelajaran
disusun untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki
tahapan segera dan jangka panjang.
Menurut Gagne, belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh dua faktor
yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal datang dari dalam diri
individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar, minat dan bakat serta
kesiapan setip individu yang belajar. Faktor eksternal ini datang dari luar
individu yang berkaitan dengan penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain
agar siswa belajar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis dan berstruktur
dengan menentukan tujuan pembelajaran melalui strategi dan teknik untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan.
2. Model-Model
Desain Instruksional
a. Model Kemp
Model desain
yang dikembangkan Kemp, seperti tampak pada gambar dibawah ini:
Model
desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang
membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri
atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan
berbagai kendala yang timbul. Komponen-komponen itu digambarkan oleh Kemp
seperti gambar diatas.
Model
sistem instuksional yang dikembangkan Kemp ini tidak ditentukan dari komponen
mana seharusnya guru memulai proses perkembangan. Mengembangkan sistem
instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asal saja urutan komponen
tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi unruk mencapai hasil
yang maksimal. Oleh karena itu mosel Kemp, dilihat dari kerangka sistem
merupakan model yang sangat luwes.
Komponen-komponen
dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah:
1. Hasil yang
ingin dicapai;
2. Analis tes
mata pelajaran ;
3. Tujuan
khusus belajar ;
4. Aktivitas
belajar;
5. Sumber
belajar;
6. Layanan
pendukung;
7. Evaluasi
belajar;
8. Tes awal;
9. Karakteristik
belajar
b. Model Banathy
Model desain
sistem pembelajaran dari Banathy berbeda dengan model Kemp. Model ini memandang
bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang
jelas. Terdapat 6 tahapan dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni:
1. Menganalisis
dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun tujuan spesifik.
Tujuan merupakan sasaran dan arahan yang harus dicapai oleh siswa atau peserta
didik.
2. Merumuskan
kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam
tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat
meyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilan.
3. Menganalisis
dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh
kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi
yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
4. Merancang
sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem penganalisis setiap komponen sistem,
mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
5. Mengimplementasikan
dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai
efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi.
6. Mengadakan
perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
c. Model Dick
and Cery
Menurut
model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan
kempuan awal siswa terlebih dahulu. Rumusan kemampuan khusus harus berpijak
dari kemampuan dasar atau kempuan awal. Manakalah telah dirumuskan tujuan
khusus yang harus dicapai selanjutnya dirumuskan tes dalam bentu Criterion Reference Test, artinya tes
yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus
selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan
pembelajrana yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal, setelah itu
dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Langkah
terakhir melakuakan evaluasi formatife berfungsi untuk menentukan kedudukan
setiap siswa dalam penguasaan materi pelajaran. Model desain pembelajaran ini
dikembangkan oleh Dick and Cery.
d.
Model PPSI
(Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI
(Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) adalah model yang dikembangkan di
Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk
mengefektifkan perencanaan dan
pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai
pedoman bagi guru melaksanakan proses
belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni:
1.
Merumuskan
tujaun, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam
perumusan tujuan ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan
harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar,
berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu
bentuk tingkah laku.
2. Mengembangkan
alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk
masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan
tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah
ditentukan.
3. Mengembangkan
kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar
dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
4. Mengembangkan
program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan
metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
5. Pelaksanaan
program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran,
mengadakan psikotes dan melakukan perbaikan.
C.
Analisis Kebutuhan
1. Pengertian
Analisis Kebutuhan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kata
bantu penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu
sendiri, serta hubungan antara bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat
dan pemahaman makna keseluruhan proses pencarian jalan keluar yang berangkat
dari dugaan akan keberadaanya, penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk
mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Menurut Habibi (2015:1), Kebutuhan adalah segala
sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk
memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan.
Menurut Anderson analisis kebutuhan (Need Assessment) diartikan sebagai
suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas.
Sedangkan menurut Kaufan (dalam sihombing dan marni
2012) analisis kebutuhan dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk
mengidentifikasi alat dan metode yang diperlukan dalam rangka menghilangkan
kesenjangan antara kenyataan dan harapan.
Dapat disimpulkan bahwa analisis kebutuhan adalah suatu usaha dalam berproses untuk memperoleh
sesuatu dengan melakuakan identifikasi
terhadap apa saja yang dibutuhkan untuk memperoleh kesejahteraan dan
kenyamanan
2. Fungsi Analisis
Kebutuhan
Menurut
Morrison menjelaskan beberapa fungsi analisis kebutuhan sebagai berikut:
· Mengidentifikasi
kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa
yang mempengaruhi hasil pembelajaran
· Mengidentifikasi
kebutuhan mendesak yang terkait dengan fiansial, keaman atau masalah lain yang
mengganggu pekerjaan ata lingkungan pendidikan
· Menyajikan
prioritas-prioritas untuk memilih tindakan
· Memberikan
data basis untuk menganalisa efektivitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan
yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan:
a. Kebutuhan
normatif
Membandingkan peserta didik dengan standar
nasional misal, UAN< SNMPTN dan sebagainya.
b. Kebutuhan
komperatif
Membandingkan peserta didik pada satu satu
kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misalnya, hasil Ebtanas SLTP A
dengan SLTP B
c. Kebutuhan yang
dirasakan yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didk
yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukkan kesenjangan antara tingkat
keterampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk
mengidentifikasi kebutuhan ini dengan Cara interview.
d. Kebutuhan
yang diekspresikan yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan
dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e. Kebutuhan
masa depan yaitu mengidentifikasi perubaha-perubahan yang akan terjadi dimasa
mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru dan sebagainya.
f. Kebutuhan insidentil yang mendesak yaitu faktor negatif yang
muncul diluar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan
medis, bencana alam dan sebagainya.
D.
Analisis
Karekteristik Siswa
a. Analisis
Karakteristik Siswa
Ada dua karakteristik
awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni :
1). Latar belakang
akademik mencakup
a. Jumlah
siswa
Guru
perlu mengetahui berapa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah
mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah
siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media
waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk
mengetahui jumlah siswa, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
b. Latar
belakang siswa
Pemahaman
guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat
ekonomi, hobi dan lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan
perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang
siswa dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh siswa.
c. Indeks
prestasi
Indeks
prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang akan
disajikan:
- Dapat
disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
- Bahkan
siswa yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas
yang sama
- Guru
juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang
disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa
- Untuk
mengetahui indeks prestasi siswa dapat di peroleh melalui nilai rapor sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselenggarakan lembaga.
d. Tingkat
intelegensi
Memahami
tingkat intelegensi siswa juga dapat mengukur dan
memprediksi
:
- Tingkat
kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran
- Mengukur
tingkat kedalaman dan keluasan materi
- Bahkan
dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode,
media serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa.
Tingkat
intelegensi siswa dapat diperoleh melalui tes intelengensi atau tes potensi
akademik (TPA).
e. Keterampilan
membaca
Salah
satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan
membaca, keterampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam
menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka
baca.Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca siswa dapat dilakukan
melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang
telah ditentukan.
f. Nilai
ujian
Nilai
ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal
siswa.untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan awal
siswa terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh guru yang bersangkutan.
g. Kebiasaan
belajar/gaya belajar
Aspek
lain yang perlu diperhatikan guru dalam mengajar adalah memahami gaya belajar
siswa atau yang disebut dengan learning
style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa.
Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang
mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan
menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang
berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan
siswa yang berbeda-beda, akan tetapi juga ditentukan oleh cara belajar yang
dimiliki oleh masing-masing siswa. seorang siswa yang senang membaca, kurang
terbiasa belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau berdiskusi.
Demikian juga, siswa yang senang bergerak atau berdiskusi, tidak akan belajar
dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah dari guru. Lebih lanjut, gaya
belajar atau learning style sering
diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai
cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan
memikirkan informasi tersebut.
Keanekaragaman
gaya belajar siswa perlu diketahui oleh guru pada awal belajar. Sehingga guru
memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran apa yang
relevan dengan gaya belajar siswa. Karena prinsip dari efektivitas proses
pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran
berdasarkan tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai
oleh siswa.
h. Minat
belajar
Minat
belajar juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam memahami karakteristik
siswa.Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/melihat tingkat antusias
siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu
melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh
penilaian yang mencerminkan tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang
akan disampaikan.
i.
Harapan/keinginan siswa
Harapan
dan keinginan siswa terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan
sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini dapat
dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan
mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang diinginkan,
serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.
j.
Lapangan kerja/cita-cita yang diinginkan
Hal
ini dapat dilakukan dengan pengisian angket.Sehingga berdasarkan informasi ini
guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya
pencapaian cita-cita mereka inginkan.Faktor-faktor sosial yang meliputi hal-hal
berikut ini :
§ Usia
Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami
karakteristik siswa. memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan
pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan
terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang
digunakan terhadap anak remaja atau dewasa.
§ Kematangan
(maturity)
Kematangan juga dapat dijadikan sebagai patokan dalam memahami
karakteristik siswa, di mana kematangan secara psikologis juga menjadi
pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang
sesuai dengan tingkat usia/kesiapan siswa.Dalam ilmu psikologi pendidikan
kematangan ini disebut juga dengan perkembangan.Perkembangan merupakan suatu
perubahan yang bersifat kualitatif dari pada fungsi-fungsi tubuh manusia baik
jasmani maupun rohani.Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi
pada setiap fase kehidupan manusia. Mengarah kepada terjadinya proses
kematangan.
§ Rentangan
perhatian (attention span)
Rentang
perhatian siswa adalah jumlah waktu normal siswa dapat berkonsentrasi dalam
mendengarkan uraian pembelajaran.
§ Bakat-bakat
istimewa
Sebagaimana
dipahami bahwa setiap anak memiliki berbagai macam potensi yang berbeda satu
sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat
dikembangkan secara optimal.
§ Hubungan
dengan sesame siswa
Berdasarkan
penelitian ilmiah yang dilakukan hari ini, bahwa interaksi antara guru dan siswa,
siswa dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi
lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik (interaktif) lewat proses
belajar mengajar. Siswa tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi
dengan polarisasi pemikiran hari ini yaitu sebagai subjek didik, proses
interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar efektif.
Dengan demikian memahami hubungan antar siswa membantu guru dalam megembangkan
pendekatan-pendekatan belajar yang bertumpu kepada kerja sama siswa dalam
belajar.
§ Keadaan
sosial ekonomi
Pemahaman
guru terhadap keadaan sosial ekonomi siswa juga dapat membantu guru dalam
menntukan pndekatan dan sumber belajar.Secara kasat mata, dapat diperhatikan
bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memenuhi kebutahan sumber
belajar.
2) Manfaat
Memahami Karakteristik Siswa
a. Memperoleh
gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang
berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat)
bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu
mudah atau tidak terlampau sulit bagi siswa untuk mempelajarinya. Yang lebih
baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite (prasyarat) yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya.
Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara
optimal.
b. Memporoleh
gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa.
dengan berdasarkanpengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan
ilustrasi yang tidak asing lagi bagi siswa. dengan demikian, siswa akan lebih
mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.
c. Mengetahui
latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakan keluarga,
seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan
demensi-demensi kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial
emosional dan mental mereka. Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang
lebih serasi dengan metode yang lebih efesien.
d. Mengtahui
tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani maupun rohani. Tingkat
perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara
belajar siswa. dengan demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran
yang ebih sesuai bagi mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku
yang harus diperoleh oleh siswa sebelum dia mulai membaca.
e. Untuk
menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat
digunakan, yaitu peragkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara
yang stu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
f. Mengetahui
aspirasi dan kebutuhan para siswa.dengan cara itu guru dapat merancang strategi
yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara
individual maupun secara kelompok.
g. Mengetahui
tingkat penguasaan pengetahuan yang telah di peroleh oleh siswa sebelumnya.
Perkembangan aspek kognitif dan intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar
dalam merencanakan pengetahuan baru, yang dirancang secara tepat.
h. Mengetahui
tingkat penguasaan bahasa siswa, baik lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan
bahasa menjadi dasar pertimbangan dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih
mudah dipahami dan dicerna oleh siswa. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan
kemampuan berbahasa para siswa agar terjadi komunikasi yang seimbang dan
berhasil.
i.
Mengetahui sikap dan nilai yang menjiwai
pribadi pada siswa. bahan itu dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam
perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan pribadinya dalam proses
belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar